Kabar dari industri properti Jawa Barat lagi ramai dibicarakan, nih. Data terbaru menyebutkan penjualan rumah dan properti lain di provinsi ini turun tajam, bahkan sampai 40 persen dibanding tahun lalu. Buat Sahabat yang lagi mengincar rumah atau justru berencana investasi properti, situasi ini penting untuk dipahami sebelum ambil keputusan besar.
Daya Beli Melemah, Penjualan Properti Ikut Tertekan
Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jawa Barat, Norman Nurdjaman, mengungkapkan bahwa penurunan penjualan properti di wilayahnya berada di kisaran 30 hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab utamanya jelas: daya beli masyarakat yang belum pulih sejak awal 2025.
Menurut Norman, tren pelemahan daya beli ini sebenarnya sudah terasa sejak setahun terakhir, bahkan sempat diwarnai kondisi deflasi di awal 2025. Kini, situasinya makin kompleks karena nilai tukar dolar AS yang terus menguat turut mendorong naiknya harga bahan bangunan.
Efek Domino Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Material
Kenaikan kurs dolar bukan cuma bikin harga barang impor naik, tapi juga ikut mengerek harga material bangunan lokal maupun bahan substitusi impor seperti handle pintu dan perlengkapan lainnya. Kondisi ini otomatis menambah beban biaya produksi bagi para pengembang.
Di Jawa Barat, masalah makin runyam sejak moratorium tambang galian C diberlakukan mulai Agustus 2025, menyusul bencana longsor di Cirebon. Akibatnya, sejumlah anggota REI Jabar yang biasanya mengandalkan pasokan material lokal terpaksa mendatangkan bahan dari luar daerah, seperti Jawa Tengah, dengan harga yang jauh lebih mahal.
Norman bahkan menyebut kenaikan harga material akibat moratorium ini bisa mencapai 50 persen hingga 100 persen. Bayangkan, Sahabat, betapa beratnya beban yang harus ditanggung pengembang di tengah kondisi pasar yang sudah lesu.
Indonesia Alami “Stagflasi”, Kombinasi yang Jarang Terjadi
Gabungan antara deflasi di sisi daya beli dan inflasi akibat naiknya harga material menciptakan kondisi yang oleh Norman disebut sebagai stagflasi, situasi ekonomi yang sebenarnya ingin dihindari oleh negara mana pun karena berdampak langsung pada penurunan pendapatan masyarakat.
“Kalau misalnya turun ya profit turun, hasil pendapatan turun,” ujar Norman, mengacu pada dampak stagflasi terhadap sektor properti secara keseluruhan.
Pasar Sebenarnya Masih Terbuka Lebar
Meski tren penjualan sedang melambat, bukan berarti peluang di sektor properti Jabar tertutup. Norman menjelaskan bahwa kebutuhan rumah secara nasional mencapai 15 juta unit menurut REI, sementara versi pemerintah sekitar 10 juta unit. Jawa Barat sendiri diperkirakan menyumbang minimal 20 persen dari kebutuhan itu, atau sekitar 2 juta unit.
Angka ini jauh lebih besar dibanding target penjualan REI Jabar yang hanya sekitar 350 ribu unit, sehingga menurut Norman, target tersebut sebenarnya realistis untuk dicapai jika melihat besarnya pasar yang tersedia. Pikiran Rakyat bahkan mencatat, backlog kebutuhan rumah di Jabar saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2 juta unit.
SLIK OJK Jadi Ganjalan di Sisi Konsumen
Selain tantangan dari sisi biaya produksi, pengembang juga menghadapi kendala di sisi pembeli. Banyak calon konsumen tersandung SLIK OJK, meski pemerintah sudah sepakat dengan OJK bahwa catatan kredit macet di bawah Rp 1 juta bisa dianulir.
Faktanya, bank tetap punya standar penilaian sendiri berdasarkan prinsip 5C sehingga histori kredit kecil pun bisa memengaruhi penilaian karakter calon debitur. Penggunaan pinjaman online dan paylater turut menjadi sorotan karena berpengaruh pada profil risiko calon pembeli di mata perbankan.
Digital Marketing Jadi Andalan Pengembang di Tengah Persaingan Ketat
Menghadapi tekanan pasar yang berat, REI Jabar tidak tinggal diam. Asosiasi ini menggelar pelatihan Advanced Digital Marketing bagi tim pemasaran anggotanya di Hotel Mercure Setiabudi, sebagai kelanjutan dari pelatihan serupa yang sudah dimulai sejak September 2025.
Norman menjelaskan, pelatihan ini bertujuan membekali tenaga pemasaran dan konten kreator REI Jabar dengan strategi promosi berbasis media sosial yang lebih efektif, mengingat persaingan memperebutkan sisa pangsa pasar konsumen kini semakin ketat antar pengembang.
Selain kendala ekonomi makro, isu lahan turut jadi tantangan tersendiri. Proses perizinan yang berkaitan dengan regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) kerap memperlambat proses pembangunan proyek properti baru.
Kesimpulan: Waktu yang Tepat untuk Lebih Cermat
Kondisi penjualan properti Jabar yang melemah jadi sinyal penting bagi siapa pun yang berencana membeli atau berinvestasi properti tahun ini. Di satu sisi, tekanan daya beli dan naiknya biaya material membuat pengembang lebih fleksibel menawarkan promo dan skema pembayaran menarik. Di sisi lain, calon pembeli tetap perlu mempersiapkan profil kredit yang sehat agar proses pengajuan KPR tidak terganjal SLIK OJK.
Buat Sahabat yang sedang menabung untuk rumah pertama atau kendaraan impian, momen seperti ini justru bisa jadi waktu yang tepat untuk lebih disiplin mengatur keuangan dan mencari opsi pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi dompet.
Sumber: Kompas, Republika, Media Indonesia, Pikiran Rakyat