Menjalankan bisnis bukan hanya soal menjual produk atau layanan. Salah satu faktor yang sering menentukan apakah sebuah usaha bisa bertahan lama atau tidak adalah cara pemilik bisnis mengelola keuangan.
Di Indonesia, hal ini menjadi semakin penting karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Data pemerintah menunjukkan jumlah UMKM mencapai sekitar 64 juta unit usaha, dengan kontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja nasional.
Sumber : https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/curup/id/data-publikasi/artikel/2885-umkm-hebat%2C-perekonomian-nasional-meningkat.html
Namun di sisi lain, banyak pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam manajemen keuangan, seperti pencatatan yang belum rapi atau pemisahan keuangan pribadi dan bisnis yang belum jelas.
Sumber : https://ejurnal.umri.ac.id/index.php/jae/article/view/5765
Agar bisnis lebih stabil dan berkelanjutan, berikut beberapa financial habits yang penting dimiliki oleh pemilik usaha kecil dan menengah di Indonesia.
1. Memisahkan Keuangan Bisnis dan Pribadi
Ini adalah kebiasaan finansial paling dasar, tetapi masih sering diabaikan.
Banyak pemilik usaha kecil mencampur:
- uang penjualan
- pengeluaran rumah tangga
- modal usaha
Padahal, jika keuangan tidak dipisahkan, pemilik bisnis akan kesulitan mengetahui:
- apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan
- berapa biaya operasional yang sebenarnya
- apakah bisnis layak dikembangkan
Membuka rekening khusus bisnis merupakan langkah sederhana yang bisa membantu pengelolaan keuangan menjadi lebih transparan.
2. Membuat Catatan Keuangan Secara Rutin
Salah satu masalah klasik UMKM di Indonesia adalah pencatatan keuangan yang belum sistematis. Banyak usaha hanya mengandalkan ingatan atau catatan sederhana tanpa laporan yang jelas.
Padahal pencatatan keuangan membantu pelaku usaha memahami:
- arus kas bisnis
- biaya operasional
- profit sebenarnya
Beberapa laporan sederhana yang sebaiknya dimiliki antara lain:
- laporan penjualan harian
- laporan arus kas
- laporan laba rugi
Dengan pencatatan yang baik, pemilik usaha juga akan lebih mudah mengajukan pembiayaan ke bank atau fintech.
3. Memahami Arus Kas (Cash Flow)
Banyak bisnis yang sebenarnya menghasilkan keuntungan, tetapi tetap mengalami kesulitan keuangan karena cash flow tidak terkelola dengan baik.
Cash flow berarti:
- uang yang masuk dari penjualan
- uang yang keluar untuk biaya operasional
Jika pengeluaran lebih cepat daripada pemasukan, bisnis bisa mengalami kekurangan likuiditas meskipun secara teori masih untung.
Karena itu, pemilik usaha perlu membiasakan diri memantau arus kas secara rutin.
4. Menetapkan Anggaran Bisnis
Kebiasaan finansial berikutnya adalah membuat budget atau anggaran bisnis.
Anggaran membantu pelaku usaha menentukan batas pengeluaran untuk:
- produksi
- pemasaran
- operasional
- pengembangan usaha
Penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha dengan literasi keuangan yang lebih baik cenderung mampu membuat anggaran bisnis dan mengontrol biaya produksi dengan lebih efektif.
Sumber : https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311975.2025.2487837
Tanpa anggaran yang jelas, pengeluaran bisnis sering kali tidak terkontrol.
5. Mengelola Utang Secara Sehat
Akses pembiayaan merupakan salah satu faktor penting bagi pertumbuhan UMKM. Namun utang yang tidak dikelola dengan baik justru dapat menjadi beban bisnis.
Data menunjukkan porsi kredit perbankan yang disalurkan ke UMKM masih sekitar 21% dari total kredit nasional, sehingga akses pembiayaan masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha.
Sumber : https://umkm.go.id/news/trujm0bu4rptb9nde9a8b09h
Karena itu, utang sebaiknya digunakan untuk:
- ekspansi usaha
- pembelian alat produksi
- peningkatan kapasitas bisnis
Bukan untuk menutup kerugian operasional yang terus berulang.
6. Memahami Harga Pokok Produk
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pemilik usaha tidak menghitung harga pokok produksi secara detail.
Akibatnya:
- harga jual terlalu rendah
- margin keuntungan tidak jelas
- bisnis sulit berkembang
Menghitung harga pokok produksi biasanya mencakup:
- bahan baku
- biaya tenaga kerja
- biaya operasional
- biaya distribusi
Dengan perhitungan yang tepat, pemilik usaha bisa menentukan harga yang lebih sehat.
7. Menyisihkan Dana Darurat Bisnis
Seperti halnya keuangan pribadi, bisnis juga membutuhkan dana cadangan.
Dana ini bisa digunakan saat terjadi:
- penurunan penjualan
- kenaikan biaya bahan baku
- kondisi ekonomi yang tidak stabil
Pengalaman pandemi menunjukkan banyak bisnis yang tutup bukan karena tidak memiliki pasar, tetapi karena tidak memiliki cadangan keuangan untuk bertahan saat krisis.
8. Meningkatkan Literasi Keuangan
Literasi keuangan memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan bisnis.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan finansial berhubungan langsung dengan kinerja keuangan UMKM.
Pelaku usaha dengan literasi keuangan yang baik cenderung:
- membuat laporan keuangan
- mengontrol biaya operasional
- memanfaatkan pembiayaan dengan lebih efektif
Saat ini banyak program edukasi finansial yang disediakan oleh:
- bank
- fintech
- pemerintah
- komunitas bisnis
9. Memanfaatkan Teknologi Keuangan
Digitalisasi juga menjadi kebiasaan finansial baru yang penting bagi pelaku usaha.
Teknologi seperti:
- aplikasi akuntansi
- pembayaran digital
- platform pembiayaan
dapat membantu bisnis menjadi lebih efisien.
Selain itu, digitalisasi juga dapat memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM yang sebelumnya sulit mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan formal.
Kesimpulan
UMKM merupakan motor penggerak ekonomi Indonesia dengan kontribusi besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Namun agar bisnis bisa bertahan dan berkembang, pelaku usaha perlu memiliki kebiasaan finansial yang sehat.
Mulai dari memisahkan keuangan bisnis, membuat pencatatan keuangan, hingga memahami arus kas, semua kebiasaan ini dapat membantu pemilik usaha mengambil keputusan yang lebih tepat.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, bisnis kecil pun memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi usaha yang lebih besar dan berkelanjutan.