Skip to main content

Moladin Finance Official Blog

Artikel » News » Harga Rumah Sekunder Tumbuh Selektif, Segmen Premium Justru Melesat 46,7% pada Semester I 2026

Harga Rumah Sekunder Tumbuh Selektif, Segmen Premium Justru Melesat 46,7% pada Semester I 2026

by MOFI News

Pasar properti sekunder Indonesia menunjukkan wajah baru yang lebih matang dan selektif memasuki pertengahan 2026. Median harga rumah secara nasional tercatat naik 1,1% secara tahunan hingga Juni 2026, sebuah angka yang moderat namun menyimpan cerita menarik: pertumbuhan justru terkonsentrasi tajam pada segmen rumah premium dan sejumlah kota dengan permintaan kuat.

Rumah Premium Jadi Bintang Pasar

Kabar paling menonjol datang dari segmen rumah berukuran di atas 251 meter persegi, yang mencatat lonjakan harga hingga 46,7% secara tahunan, dengan Medan sebagai penggeraknya. Tren serupa juga terlihat pada segmen lain: rumah 151-250 meter persegi naik tertinggi di Surakarta (15,8%), rumah 91-150 meter persegi melesat di Denpasar (13,2%), dan rumah di bawah 60 meter persegi tumbuh solid di Surakarta (13,8%).

Fenomena ini menandakan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah-atas dan segmen properti premium tetap kuat, bahkan di tengah laju inflasi nasional yang berada di angka 3,3%.

Permintaan Tetap Bergairah di Kota-Kota Utama

Secara bulanan, Denpasar mencatat kenaikan harga rumah tertinggi sebesar 2,5%, disusul Jakarta dan Tangerang yang masing-masing tumbuh 0,3%. Sementara secara tahunan, sepuluh dari 13 kota yang dipantau masih membukukan pertumbuhan positif, dipimpin Denpasar (9,5%), Makassar (6,2%), dan Bogor (4,4%).

Kawasan Jabodetabek pun tetap menjadi magnet properti dengan tren harga yang positif di Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Jakarta. Minat pencarian rumah juga tetap tinggi, dengan Tangerang menjadi wilayah paling diminati (15,2%), diikuti Jakarta Selatan (11,9%) dan Jakarta Barat (10,6%).

Head of Research Rumah123: Pasar Semakin Cerdas Membaca Permintaan

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai perubahan pola ini justru menandakan pasar yang semakin matang dan berbasis fundamental permintaan riil.

Baca Juga  Cara Dapat Sertifikat Tanah Gratis dari Pemerintah, Cek Dulu Kamu Termasuk Golongan Ini atau Bukan

“Rumah berukuran besar dan premium tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata pasar, sementara segmen menengah bergerak lebih terukur. Ini menunjukkan pasar semakin selektif, dengan pertumbuhan yang terkonsentrasi pada segmen dan lokasi yang memiliki permintaan lebih kuat,” ujar Marisa.

Ia juga menambahkan bahwa penyusutan pasokan rumah sekunder—yang tercatat turun 2,4% secara bulanan—belum memicu tekanan jual di pasar. Para pemilik rumah dinilai masih nyaman menahan asetnya, sementara calon pembeli tetap aktif mencari hunian idaman, sebuah tanda keseimbangan pasar yang sehat.

Ruang Bagi Pembeli Rumah Masih Terbuka

Kabar baik lainnya datang dari sisi pembiayaan. Meski BI Rate naik 100 basis poin menjadi 5,75%, kenaikan ini belum sepenuhnya diteruskan ke bunga KPR. Hingga akhir Mei 2026, rata-rata Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) KPR bank-bank besar hanya bergeser tipis dari 9,27% menjadi 9,20%. Kondisi ini memberi ruang bernapas bagi masyarakat yang mengandalkan KPR untuk mewujudkan rumah impian mereka menjelang semester II 2026.

Optimisme Menyambut Semester Kedua

Marisa menegaskan bahwa paruh kedua tahun ini akan menjadi periode krusial yang menentukan arah pasar properti hingga akhir tahun.

“Selama pasokan masih terbatas, permintaan tetap terjaga, dan pembiayaan belum mengalami pengetatan yang signifikan, kami melihat pasar properti sekunder masih memiliki fondasi yang cukup kuat hingga akhir 2026,” tutupnya.

Dengan fondasi permintaan yang solid dan pembiayaan yang masih ramah bagi konsumen, semester kedua 2026 berpotensi menjadi momentum tepat bagi masyarakat yang tengah mempertimbangkan untuk memiliki rumah, baik untuk hunian maupun investasi jangka panjang.

You may also like