Skip to main content

Moladin Finance Official Blog

Artikel » Panduan » KPR Floating Rate vs Fixed Rate: Ini Perbedaannya dan Cara Memilihnya

KPR Floating Rate vs Fixed Rate: Ini Perbedaannya dan Cara Memilihnya

by MOFI News

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi salah satu pilihan pembiayaan bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah tanpa harus membayar seluruh harga properti secara tunai. Dalam pengajuan KPR, jenis suku bunga menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap besaran cicilan setiap bulan.

Bank umumnya menawarkan dua jenis suku bunga KPR, yaitu fixed rate dan floating rate. Kedua skema tersebut memiliki cara perhitungan dan risiko yang berbeda, terutama ketika terjadi perubahan suku bunga. Lantas, apa perbedaan KPR floating rate dan fixed rate, serta mana yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan Anda? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Floating Rate pada KPR?

Floating rate merupakan skema suku bunga yang nilainya dapat berubah selama masa kredit. Perubahan tersebut biasanya dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kebijakan suku bunga yang menjadi acuan bank.

Kondisi tersebut membuat besaran cicilan KPR tidak selalu berada pada angka yang sama. Ketika tingkat suku bunga mengalami kenaikan dan bank menyesuaikan bunga kredit, angsuran yang harus dibayarkan debitur dapat ikut meningkat.

Sebaliknya, penurunan tingkat suku bunga dapat membuka peluang bagi debitur untuk memperoleh cicilan yang lebih ringan apabila bank melakukan penyesuaian bunga.

Karena sifatnya yang dapat berubah, floating rate perlu diperhitungkan secara matang, terutama untuk KPR yang memiliki tenor panjang.

Kelebihan Floating Rate

Salah satu keuntungan floating rate terletak pada peluang memperoleh bunga lebih rendah ketika kondisi suku bunga sedang menurun. Situasi tersebut dapat membuat beban angsuran menjadi lebih ringan.

Skema ini juga memberikan kesempatan bagi debitur untuk mendapatkan manfaat dari penurunan tingkat bunga pasar tanpa harus menunggu berakhirnya masa kredit.

Namun, manfaat tersebut berjalan beriringan dengan risiko perubahan bunga. Karena itu, debitur yang memilih floating rate perlu memiliki kondisi keuangan yang cukup fleksibel untuk menghadapi kemungkinan perubahan cicilan.

Kekurangan Floating Rate

Risiko utama floating rate adalah besaran cicilan dapat berubah. Kenaikan suku bunga dapat membuat angsuran bulanan menjadi lebih besar dibandingkan ketika kredit pertama kali berjalan.

Baca Juga  Cara Menggabungkan Dua Bidang Tanah dalam Satu Sertifikat, Ini Syaratnya

Kondisi tersebut perlu diperhatikan oleh calon debitur yang memiliki anggaran bulanan terbatas. Kenaikan cicilan dapat memengaruhi alokasi dana untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

Calon debitur juga sebaiknya tidak hanya menghitung kemampuan membayar berdasarkan cicilan awal. Simulasi dengan skenario kenaikan bunga dapat membantu memberikan gambaran mengenai kemampuan finansial selama masa kredit.

Mengenal Fixed Rate pada KPR

biaya ipl perumahan - MoFi
Foto: Asya Jakarta

Berbeda dari floating rate, fixed rate merupakan skema bunga yang ditetapkan pada tingkat tertentu selama periode yang telah disepakati dalam perjanjian kredit.

Artinya, besaran bunga tidak langsung berubah ketika terjadi pergerakan suku bunga pasar selama periode fixed masih berlaku. Kondisi ini membuat jumlah cicilan lebih mudah diperkirakan.

Namun, istilah fixed rate pada KPR perlu dipahami sesuai ketentuan masing-masing bank. Pada sejumlah produk, bunga tetap hanya berlaku selama periode tertentu. Setelah masa tersebut berakhir, bunga dapat beralih ke skema floating rate.

Karena itu, calon debitur perlu melihat durasi bunga tetap dan ketentuan bunga setelah periode fixed selesai sebelum menandatangani perjanjian KPR.

Kelebihan Fixed Rate

Keuntungan utama fixed rate adalah kepastian cicilan selama periode bunga tetap. Debitur dapat menyusun anggaran bulanan secara lebih mudah karena tidak perlu terlalu khawatir terhadap perubahan suku bunga pasar dalam periode tersebut.

Kepastian ini juga membuat perencanaan keuangan jangka menengah menjadi lebih sederhana. Debitur dapat memperkirakan kebutuhan dana untuk membayar angsuran tanpa harus menghitung ulang setiap kali terjadi perubahan tingkat bunga.

Fixed rate juga dapat menjadi pilihan bagi calon pemilik rumah yang lebih mengutamakan stabilitas cicilan dibandingkan peluang mendapatkan bunga lebih rendah ketika pasar mengalami penurunan.

Kekurangan Fixed Rate

Fixed rate bukan berarti selalu lebih murah. Tingkat bunga yang ditawarkan dapat berbeda-beda tergantung produk KPR dan kebijakan masing-masing bank.

Selain itu, ketika suku bunga pasar turun, debitur yang masih berada dalam periode fixed belum tentu langsung mendapatkan manfaat dari penurunan tersebut. Bunga tetap mengikuti ketentuan yang sudah disepakati sampai periode fixed berakhir.

Baca Juga  Biaya Penalti KPR: Pengertian, Besaran, dan Cara Menghitungnya

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masa berlaku fixed rate. Setelah periode tersebut selesai, KPR dapat memasuki skema floating rate sehingga cicilan berpotensi berubah.

Floating Rate vs Fixed Rate, Mana yang Lebih Cocok?

Tidak ada satu pilihan yang otomatis paling baik untuk semua calon debitur. Fixed rate lebih memberikan kepastian angsuran selama periode bunga tetap, sedangkan floating rate menawarkan peluang memperoleh cicilan lebih rendah ketika tingkat bunga mengalami penurunan.

Pemilihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan finansial dan tingkat toleransi terhadap perubahan cicilan. Calon debitur yang membutuhkan kepastian anggaran dapat mempertimbangkan skema fixed, sementara mereka yang memiliki ruang finansial lebih fleksibel dapat mempertimbangkan risiko floating rate.

Selain bunga, perhatikan juga tenor KPR, uang muka, biaya administrasi, biaya provisi, penalti pelunasan dipercepat, serta ketentuan perubahan bunga. Perbandingan seluruh komponen tersebut akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai biaya KPR.

Jangan Hanya Melihat Cicilan di Awal

Besaran cicilan pada tahun pertama belum tentu menggambarkan total biaya KPR sampai kredit lunas. Perubahan bunga setelah masa fixed berakhir dapat memengaruhi angsuran pada tahun-tahun berikutnya.

Oleh karena itu, calon debitur sebaiknya meminta simulasi pembiayaan secara lengkap dari pihak pemberi kredit. Perhitungan tersebut dapat digunakan untuk membandingkan skenario fixed dan floating sekaligus menyesuaikannya dengan kemampuan keuangan.

Pada akhirnya, pilihan suku bunga KPR perlu disesuaikan dengan kondisi dan rencana keuangan masing-masing. Jangan sampai cicilan rumah justru membebani kebutuhan finansial lainnya.

Butuh solusi pembiayaan untuk berbagai kebutuhan? Moladin Finance hadir dengan pilihan pembiayaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial Anda. Cari tahu informasi selengkapnya dan ajukan pembiayaan melalui Moladin Finance.

You may also like